Diantara lagu” Lidah Tak Bertulang” dan “Jangan ada dusta diantara kita”
Kasus Bailout Bank Century yang menyita energi masyarakat bangsa sampailah pada klimaksnya. Suara membahana , tepukan dan nyanyian memenuhi ruang sidang paripurna DPR RI. Opsi C menjadi pilihan sebagian besar anggota dewan dan menjadi keputusan politik.
Sehari sebelumnya masyarakat bangsa ini masih melihat anggota dewan yang terhormat bertingkah dan bertindak “bukan” sebagai orang terhormat. Mereka marah dan penuh emosional terhadap pimpinan sidang yang juga Ketua DPR RI Marzuki Ali karena menutup sidang paripurna , disaat interupsi-interupsi tengah berlangsung. Tak kalah serunya para demonstran di luar gedung DPR/MPR bentrok dengan aparat keamanan.
Itulah tontonan reality show yang memalukan. Rakyat secara langsung dapat melihat tingkah polah para aktor politiknya yang tidak lagi menggunakan etika dan logika demokrasi. Akal sehat di kesampingkan, kesantunan diabaikan. Maka lengkaplah sudah dekadensi moral politik para wakil rakyat yang saat ini berkuasa di Senayan.Kita jadi teringat dengan sindiran (alm) Gus Dur ketika sebagai Presiden RI mengomentari tingkah polah anggota dewan seperti taman kanak-kanak.
Mungkin Gus Dur ada benarnya. Kritikan Gus Dur tentulah tidak asal kritik. Pasti ada sebabnya mengapa Gus Dur memberikan komentar yang nggak enak di kuping itu.
Seorang anak TK kalau menginginkan sesuatu harus dapat. Kalau nggak dikasih ia nangis atau ngambek atau marah-marah. Tetapi jika keinginannya dipenuhi dan dikabulkan, waduh girangnya bukan main.Mereka jingkrak-jingkrak, nyanyi-nyanyi dan kembali menjadi anak manis.
Tingkah polah seperti itulah yang dipertontonkan oleh wakil rakyat yang terhormat itu dalam sidang paripurna DPR yang membahas laporan Pansus Bank Century.
Keputusan politik telah diambil melalui voting dan bola liar Century yang selama ini menggiring opini public sudah terlihat optimal.. Persoalannya adalah, apakah kemenangan partai oposisi di parlemen terhadap partai koalisi suatu kemenangan yang bersifat substansif?
Laporan ahir Pansus Hak Angket Century yang memberikan 2(dua ) opsi untuk di voting sama sekali tidak berhasil mengungkapkan substansi yang melatari dibentuknya Pansus Hak Angket Century.
Opini public yang dibangun selama ini seakan adanya indikasi aliran dana Century ke salah satu partai politik ataupun tim kampaye SBY-Boediono ternyata tidak terbukti. Partai oposisi atau para inisiator yang bekerja keras selama ini membangun opini public untuk mendiskreditkan pemerintahan SBY hanya berhasil memporak porandakan partai koalisi pemerintah dan menggiring ke kubu mereka . Tetapi mereka gagal menjatuhkan pemerintahan SBY.
Sejumlah nama pejabat yang disebut bertanggung jawab terhadap kasus Bank Century tentunya harus dibuktikan secara hokum. Tapi yang terjadi sekarang ini justru mereka telah diperlakukan dengan tidak adil, dihujat, dimaki-maki , gambar mereka dicontreng dan dibangun suatu opini di masyarkat seolah-olah mereka telah bersalah. Itulah yang sangat disayangkan. Hati nurani telah dikesampingkan demi kepuasan emosional. Kita semakin prihatin dengan generasi muda kita dan mahasiswa yang lepas control yang tiada hari tanpa demo dan bertindak anarkis.
Negeri ini membutuhkan pemimpin masa depan yang cerdas, jujur, berwibawa, berkwalitas dan berkarakter nasionalis sejati, bukan pemimpin beringas yang berwatak preman.
Maka mengiringi laporan ahir Pansus dan hasil sidang paripurna DPR yang telah berhasil melakukan voting, marilah kita bernynyi bersama denga lagu “ lidah tak bertulang “ dan lagu “ Jangan ada dusta diantara kita “. ( sam sanjaya )
Kamis, 04 Maret 2010
Langganan:
Komentar (Atom)