Jumat, 30 Oktober 2009

WHAT NEXT GOLKAR ? Oleh : Sam Sanjaya

Benarkah Partai Golkar pasca Munas VIII telah menjadi kuning kebiru2an ? Setelah terpilihnya Abu Rizal Bakri, sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada Munas ke VIII di Riau beberapa waktu lalu, berbagai reaksi dan tanggapan bermunculan baik dari kalangan pengamat maupun dikalangan internal partai berlambang beringin itu.

Salah satu diantaranya adalah sikap Golkar terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Apakah Golkar akan menjadi kekuatan politik penyeimbang atau tetap ikut dalam gerbong pemerintahan. Faktanya, Golkar masuk dalam jajaran kabinet.Sehingga tuduhan terhadap Gokar yang menjadi kuning kebiru-biruan menjadi fakta politik yang terlihat saat ini.

Aburizal Bakri juga dituding nekat melabrak aturan partai untuk memuluskan kemesraan antara Golkar dan Partai Demokrat. Bahkan Arbi Sanit, pengamat politik dalam suatu diskusi di salah satu stasiun televise menyebut Golkar menjadi kuli politik.

Tindakkan yang dianggap nekat itu adalah memasukan nama Rizal Malaranggeng dalam jajaran “cabinet”nya sebagai salah satu ketua. Selain sebagai orang baru di Golkar,Rizal juga dipandang sebagai “orang”nya SBY karena dalam masa kampanye Pemilihan Presiden tahun 2009,Rizal aktif sebagai konsultan politik SBY-Boediono melalui Fox Indonesia.

Namun sebagai pemegang mandat munas dan ketua tim formatur, Aburizal Bakri tentu punya alasan tersendiri.
Menurut Aburizal Bakri, Partai Golkar ingin membuat sebuah lembaga kajian dan Rizal Malaranggeng dianggap cocok karena kemampuannya sudah teruji.
Meskipun mendapat protes, Aburizal Bakri tetap pada pendiriannya.

Dalam hal ini Aburizal Bakri telah menunjukkan kwalitas kepemimpinannya yang konsekwen terhadap sebuah keputusan yang telah diambilnya. Bagaimanapun hasilnya nanti, dan apapun reaksi yang mungkin terjadi akan terlihat pada proses selanjutnya. Tetapi yang ingin kita catat, adalah suatu pembelajaran bagi setiap pemimpin dalam hal keberanian mengambil suatu keputusan yang mungkin tidak populer dan menimbulkan reaksi protes.

Sebagai politisi dan pengusaha besar, Aburizal Bakri tentu sudah terbiasa mengambil suatu keputusan dalam kondisi sulit. Demikian pula selaku Ketua Umum partai besar yang selama ini sudah diketahui kiprahnya dalam ikut membangun bangsa dan negara ini, tentu ia telah mengkalkulasi situasi politik kedepan yang akan dihadapi Golkar. Sebab apa yang ada dalam pikiran seorang pemimpin belum tentu terpikirkan oleh yang dipimpin. Dan disitulah satu kelebihan seorang pemimpin yaitu keberanian mengambil keputusan besar untuk masa depan yang lebih baik, walau untuk itu tantangannya juga cukup besar.

Oposisi apa koalisi

Tarik menarik dalam tubuh Golkar memang cukup kuat.Ada kehendak yang ingin menjadikan Golkar suatu kekuatan oposisi atau penyeimbang setelah menyadari kekalahan demi kekalahan yang dihadapinya. Ada anggapan bahwa dengan beroposisi terhadap pemerintah , Golkar akan menemukan jati dirinya yang baru.

Dilain pihak banyak pihak yang menyangsikan keberanian Golkar untuk menjadi partai oposisi. Persoalannya karena Golkar tidak terbiasa menjadi partai yang berseberangan dengan pemerintah. Lebih baik Golkar tetap eksis dalam pemerintahan Selain itu rakyat sendiri belum tentu memberikan dukungan terhadap partai yang bersikap oposisi, karena rakyat pada dasarnya ingin negeri ini aman, makmur dan sejahtera. Rakyat sudah bosan dengan hiruk pikuk politik yang pada ujung-ujung juga bermuara kepada kekuasaan.

Partai Golkar tetap eksis dan tidak kehilangan legemitasinya bilamana secara tegas pula berperan sebagai kekuatan politik yang tetap melakukan fungsi chek and balancing terhadap pemerintah. Itu kelihatannya lebih memungkinkan. Golkar sekalipun ikut berada dalam pemerintahan, tetap mengkritisi kebijaksanaan pemerintah apabila tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Dan selalu memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa ini.Barangkali dengan sikap dan jatidiri ini, Golkar dapat kembali merebut simpati rakyat, sehingga pada Pemilu lima tahun mendatang, Golkar tetap dipercaya sebagai salah satu sarana penyambung lidah rakyat.

Agar apa yang diharapkan oleh Golkar dapat merebut kembali simpati rakyat, figur Ketua Umum sangat menentukan. Kesiapan Aburizal Bakri memimpin partai beringin ini tentunya tidak diragukan lagi. Aburizal Bakri harus berkonsentrasi penuh untuk membangun partai kedepan dan dapat membangun komunikasi politik secara internal. Dengan tidak lagi ikut duduk dalam Kabinet SBY –Boediono,.Aburizal Bakri dapat memberikan seluruh waktunya melaksanakn visi dan misi Golkar. Karena Golkar memang harus bangkit kembali meraih kepercayaan rakyat pendukung. Seyogianya memang demikian.
Ketua umum partai politik yang duduk dalam pemerintahan seharus melepas jabatan partainya. Kenyataan telah memberikan pembelajaran berharga bagi parpol yang ketua umumnya duduk dalam pemerintahan, partainya ditinggal oleh konstituennya. Dan kita tidak harapkan nasib Partai Golkar berulang kali menangguk kekalahan.***Sam Sanjaya, wartawan Progresif Jaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar