Oleh SAM SANJAYA
Setelah terlaksananya Pemilu Legislatif untuk memilih anggota DPR,DPRD dan DPD tahun 2009, tahapan berikutnya adalah Pemilu Pilpres yang direncanakan tanggal 8 Juli 2009. Pemilu Pilpres akan menguji kembali kecerdasan rakyat pemilih dalam menentukan siapa yang pantas menjadi Presiden dan wakil Presiden pada priode 2009-2014.
Pengalaman Pemilu legislative telah meninggalkan berbagai persoalan yang harus dijadikan pelajaran berharga bagi kita semua agar dalam pemilihan Presiden dan wakil Presiden semua kesalahan, kekeliruan, kekurangan ataupun kecurangan jangan sampai terulang kembali.
Rakyat sudah cape dengan berbagai controversial yang tidak berujung yang selalu dikorek-korek dan dicari kelemahannya. Rakyat juga sudah bosan dengan pelaksanaan dari Pemilu ke Pemilu yang menghambur dana, tenaga dan pikiran, jika kemudian selalu jadi bahan ocehan dari mereka yang kalah.
Saatnya sekarang rakyat pemilih harus betul-betul menempatkan diri sebagai pemilih yang cerdas berdasarkan suara hatinya, bukan karena janji kampanye atau orasi dan retorika para kandidat yang semuanya hebat-hebat. Kenapa demikian ?
Dalam Pilpres tahun 2009 ini kita mengetahui ada 3(tiga) pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden yang akan naik panggung. Mereka merupakan putra terbaik dari bangsa ini.Pengalaman dan kemampuannya tidak diragukan lagi. Mereka sama-sama mumpuni dibidangnya masing-masing. Mereka juga pernah berbuat yang terbaik untuk negeri dan republik ini.Sungguh ini merupakan pilihan yang sulit.
Ketiga pasang Capres dan Cawapres terdiri dari3(tiga) orang jenderal (purnawirawan), 3 (tiga) Ketua Umum Partai Politik berpengaruh, 2(dua) Pembina Parpol dan 1(satu) orang sipil yang non partai ( Independen)
Hebatnya pula,Presiden dan Wakil Presiden yang berkuasa saat ini saling berkompetesi. Yang satu tetap ingin mempertahankan kursinya, sedang sang wakil mengincer kursi jadi orang nomor satu. Dan inilah indahnya demokrasi kita. Tanpa disadari akibat persaingan ini, duet mereka sebagai pimpinan nasional pada ahir jabatan menjadi tidak efektip. Urusan Negara seolah dibelakangkan. Kalau dua-duanya serempak berkampanye dihawatirkan akan terjadi kekosongan kekuasaan di republik ini.Apalagi para Menteripun ikut terlibat dalam kampanye.
Pilpres kali ini seolah menjadi pertarungan antara kelompok militer dan sipil. Diakui atau tidak itulah yang terjadi.Dua orang sipil berhadapan dengan satu orang militer untuk merebut kursi nomor satu. Selebihnya dua orang militer menempatkan posisinya sebagai Calon Wakil Presiden.
Oleh karena itu, apabila kita bicara soal peluang, maka masing-masing kandidat punya peluang yang sama. Hanya factor lucky barangkali patut pula dipertimbangkan. Disinilah kiranya rakyat pemilih harus jeli dan cerdas terhadap[ figure-figur yang dipandang paling cocok untuk memimpin negeri ini lebih lanjut.
SBY (incumbent), dalam posisi ini SBY mempunyai peluang lebih besar untuk membangun citra dan pesonanya dibandingkan pasangan lainnya.Tanpa kampanyepun istilahnya,dia bisa tampil secara resmi sebagai Presiden RI dan berpidato dihadapan rakyat, dapat bicara langsung dengan rakyat dan pengagumnya.
Kalau kita simak hasil kerja Lembaga Survey, sekalipun hasilnya berbeda, tetapi tetap menempatkan SBY sebagai yang teratas.
Penampilannya yang gagah dan anggun, latar belakang militer dan intelektualitasnya merupakan perpaduan yang lengkap untuk seorang pemimpin bangsa. Rakyatpun sudah dapat merasakan hasil kerjanya selama memimpin republic ini, baik kelebihan ataupun kekurangannya, karena SBY bukanlah superman dan ia hanyalah seorang insan manusia biasa.
Boediono dipilihnya sebagai pendamping. Suatu keputusdan yang cukup berani dan gambling. Ditengah hujan protes terhadap pilihannya itu, ia tetap tegar. Sebab apabila sebuah keputusan sudah diambil, maka ia harus konsekwen melaksanakannya.Tetap teguh pada pendiriannya.
Kalangan pengamatpun menduga, dipilihnya Boediono sebagai Cawapres bukan tidak punya maksud. Masalah krisis ekonomi nampaknya masih harus dituntaskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dimasa depan, agar rakyat dapat disejahterakan lebih dari sekarang. Issu tentang Neo Leberalisme yang selalu diusung oleh lawan politik atau pesaingnya, dibantah dan ditanggapi secara bijaksana dan jelas.
Tapi yang menarik adalah alasan kenapa SBY memilih Boediono, seorang ekonom dan birokrat. Alasannya tidak berbau politik. Sederhana dan manusiawi. Boediono bukanlah typical manusia penjilat alis cari muka. Ini nampaknya tidak pernah dibahas oleh para pengamat secara mendalam. Artinya SBY paham betul terhadap watak-orang-orang yang melingkarinya selama ini, yang kebanyakan hanya cari muka dan cari kesempatan.
Disamping itu, SBY ingin focus dan tuntas dalam ahir tugasnya nanti. Tetap,bersama menuntaskan pekerjaan Negara.
Pengalaman yang sekarang menunjukkan,betapa Presiden dan Wakil Presiden pada ahir jabatan menjadi bersimpang jalan. Rakyat dapat merasakannya bahwa diahir perjalanan pengabdian mereka, pemerintahan berjalan tidak efektif lagi. Karena yang diurus bukan l;agi rakyat, tapi kepentingan diri dan kelompok serta partainya.
Dalam hal ini SBY memperlihatkan ketegasan dan wawasannya yang jauh kedepan. Sebuah keputusan yang luar biasa, berbalik arus dengan keinginan segelintir orang partai yang haus kekuasaan.
Jusuf Kalla, lebih popular dengan sebutan JK. Penampilannya selalu relaks, senyum mengambang dengan kumisnya yang khas. Bicaranya sederhana dan merakyat.Tapi ia juga cekatan dalam memberikan jawaban dalam masalah tertentu. Ia meruapakan typical orang daerah yang tidak biosa berbasa-basi. Sama dengan SBY, posisinya sebagai incumbent cukup menguntungkan.Akan tetapi dalam kancah persaingan, apa yang dilakukannnya dan apa yang diucapkannya tak bisa dilepaskan dengan kondisi pemerintahan sekarang. Sebab ia ada didalamnya dan termasuk pengambil keputusan juga.Dia memang berhasil dalam tugas kenegaraan tertentu.Misalnya dalam masalah perdamaian Aceh, soal BLT dan konversi minyak tanah ke kompor gas. Secara konstitusional,keberhasilan itu adalah milik pemerintahan yang sekarang yang dipimpin oleh SBY dan JK sebagai wakilnya.
Wiranto di pilihnya sebagai calon Wakil Presiden . Seoraang kandidat yang berhasil menapaki karir militer sampai ke puncak. Pengalamannya tentu tidak di ragukan lagi. Wiranto pernah ikut bertanding dalam pemilihan Presiden tahun 2004 berpasangan dengan H.Salahudin Wahid tapi mereka gagal. Pasangan JK – Wiranto, di usung sebagai Pasangan Nusantara, karena merupakan perpaduan antara Jawa dan Luar Jawa. Sangat di sayangkan, saat ini Wiranto maju sebagai calon Wakil Presiden. Kok jadi turun.
Inilah yang membuat sebagian pendukung Wiranto agak kecewa.
Megawati seorang perempuan pemberani dan nekad. Bagaimanapun Megawati telah tercatat dalam sejarah ketatanegaraan kita bahwa ia pernah ,menjadi presiden wanita pertama di Indonesia .Namun ia gagal mempertahankan posisinya pada pemilihan presiden tahun 2004.
Sebagai Ketua Umum Partai besar di Indonesia,PDI Perjuangan,ia memposisikan dirinya sebagai oposisi. Oleh karena itu tidaklah mengherankan dalam setiap penampilannya, ia selalu melontarkan kritik kebijakan pemerintahan sekarang. Sikapnya itu tidak saja dalam ucapan, dalam tindak tanduknya pun ia tunjukkan.Contohnya, saat bertemu SBY, Megawati jika bisa menghindar ya menghindar bersalaman dengan SBY.Malah sebaliknya SBY sebagai Presiden RI mengalah pada seniornya.SBY-lah yang mendatangi Megawati untuk bersalaman. Sikap ini sangat disayangkan public.Sebab bagaimanapun dan apapun yang telah terjadi diantara mereka berdua, jiwa besar seorang pemimpin harus lebih dikedepankan.
Ia memilih Prabowo Seobiyanto sebagai pendampingnya. Seorang jenderal muda yang energik dan bersemangat. Bicaranya lantang, apalagi soal kebijaksanaan ekonomi sekarang ini yang dinilainya sudah melenceng jauh dari amanat UUD 1945 dan Founding Father. Harapan kepada rakyat tani, nelayan dan buruh pun dikumandangkan untuk meningkatkan kesejahteraan “wong cilik” yaitu dengan melakukan perobahan.Bahkan ia janji akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dua digit. Suatu impian yang oleh pengamat perlu dibuktikan.
Posisi Mega dan Prabowo tidaklah seberuntung SBY dan JK.Mereka harus kerja keras untuk meyakinkan rakyat dengan menawarkan mimpi-mimpi yang indah bagi bangsa dan masa depan rakyat Indonesia.
Sama dengan posisi Wiranto yang kemudian hanya menempati posisi sebagai Calon Wakil Presiden,begitu pula Prabowo. Kemenangan Partai Gerindra yang dibina dan dibidaninya semestinya passport untuk beliau menjadi Calon Presiden. Tapi dalam kenyataannya, Prabowo harus bersedia mendampingbi Megawati..
Sebagian rakyat pemilih yang ingin meliaht jenderal muda ini menjadi pemimpin bangsa sedikit agak kecewa. Namun demikian Prabowo Soebiyanto tetap diramalkan sebagai Presiden RI yang akan datang.
Waktu Pemilihan Presiden tinggal menghitung hari.Rakyat akan segera memberikan mandatnya kepada salah satu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden.
Dalam hal ini penilaian rakyat awan atau “wong cilik “ dengan rakyat elite tentulah berbeda baik dalam pandangan maupun dalam kepentingan.
Rakyat awam umumnya berpikir sederhana dan tanpa pamrih. Bagi mereka yang penting bagaimana nasib mereka hari ini bisa makan, bisa belanja dengan harga terjangkau, dapat memberikan pendidikan bagi anak-anaknya,dan jika sakit bisa berobat murah dan gratis, punya tempat bertduh yang sederhana.
Berbeda dengan rakyat elite, kaum politisi yang menggunakan pisau analisanya cukup tajam dan kritis.Namun dibalik itu mereka punya kepentingan untuk mendapatkan porsi kekuasaan atau kedudukan tertentu dalam pemerintahan.
Oleh sebab itu rakyat pemilih harus menggunakan kecerdasan alami, tidak gampang tergoda dengan janji-janji politik dan janji kampanye.Saatnya rakyat bicara dan menentukan. Gunakan kecerdasan dengan pikiran yang konsisten pada keyakinan dengan memperhatikan kenyataan yang sesungguhnya.***